Event recap

Tech in Asia Conference 2025 — AI in the Product Design Workflow

Recap sesi Tech in Asia Conference 2025 yang dimoderasi Argi Tendo bersama Felix Lee dari ADPList tentang AI, product design workflow, dan taste sebagai pembeda.

Moderator · Tech in Asia × The Business Times

Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, 22–23 Oktober 2025

Dalam rangkaian Tech in Asia Conference 2025 di Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Argi Tendo memoderasi sesi “The importance of incorporating AI in the product design workflow” bersama Felix Lee, Co-Founder dan CEO ADPList. Percakapan membahas bagaimana AI mengubah proses membuat produk tanpa menggantikan taste, konteks, dan keputusan manusia.

Argi Tendo moderating Felix Lee at Tech in Asia Conference 2025
Argi Tendo memoderasi Felix Lee, Co-Founder dan CEO ADPList, dalam sesi “The importance of incorporating AI in the product design workflow” di Tech in Asia Conference 2025.

Memoderasi percakapan tentang AI dan product design

Tech in Asia Conference 2025 berlangsung pada 22–23 Oktober 2025 di Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta. Dalam rangkaian Product Track, saya memoderasi percakapan bersama Felix Lee, Co-Founder dan CEO ADPList, dengan judul “The importance of incorporating AI in the product design workflow.”

Posisi moderator bukan hanya menjaga alur tanya jawab. Tugasnya adalah membantu pembicara membuat gagasan yang luas menjadi relevan bagi orang yang sedang membangun produk: di mana AI benar-benar membantu, apa yang berubah dalam proses desain, dan bagian mana yang tetap membutuhkan penilaian manusia.

Ketika kemampuan membuat menjadi murah, taste menjadi pembeda

Dalam recap publiknya setelah konferensi, Felix menekankan bahwa taste menjadi pembeda di era AI. Ketika kemampuan teknis semakin mudah diakses dan kualitas software yang “cukup baik” semakin umum, keunggulan tidak berhenti pada tool atau kecepatan produksi.

Implikasinya penting untuk product teams. AI dapat mempercepat eksplorasi, membuat variasi, merangkum riset, atau membantu prototyping. Namun menentukan pengalaman apa yang layak dibangun, detail mana yang perlu dijaga, dan kompromi mana yang dapat diterima tetap membutuhkan taste, konteks pengguna, dan kepedulian terhadap kualitas.

Incorporating AI bukan sekadar menambahkan fitur

Memasukkan AI ke product design workflow sebaiknya dimulai dari masalah dan tahap kerja, bukan dari keinginan menempelkan label AI pada produk. Tim perlu memahami kapan AI berperan sebagai alat eksplorasi, kapan ia membantu produksi, dan kapan hasilnya harus kembali ke designer, researcher, engineer, atau product lead untuk dinilai.

Empat pertanyaan berikut membantu menjaga integrasi AI tetap berguna dan dapat dipertanggungjawabkan.

  • Problem — masalah pengguna atau hambatan workflow apa yang benar-benar ingin dikurangi?
  • Placement — di tahap mana AI memberi leverage tanpa menghilangkan konteks penting?
  • Quality — siapa yang menentukan bahwa output cukup baik, konsisten, dan sesuai kebutuhan pengguna?
  • Responsibility — siapa yang tetap mengambil keputusan ketika output salah, ambigu, atau berdampak besar?

Dokumentasi dan konteks publik

Foto sesi mendokumentasikan Argi sebagai moderator, Felix Lee sebagai pembicara, serta judul percakapan. Halaman resmi konferensi mengonfirmasi lokasi dan rentang tanggal acara; recap Felix menambahkan konteks mengenai taste dan secara eksplisit menyebut Argi sebagai moderator.

Recap ini disusun dari partisipasi langsung Argi sebagai moderator, foto panggung sesi, halaman resmi Tech in Asia Conference 2025, dan recap publik Felix Lee. Tanggal yang ditampilkan adalah rentang konferensi karena hari spesifik sesi tidak ditemukan pada sumber publik yang tersedia.

Diperbarui 5 September 2026

Next step

Perlu membangun perspektif AI untuk audiens atau leadership?

Sesi speaking dapat disusun untuk keynote, panel, workshop, atau leadership briefing sesuai tujuan acara.

Lihat AI speaking
Semua insights →